Sabtu, 11 April 2015

Jangan Mengejarku Untuk Jadi Pacarmu. Aku Lebih Ingin Jadi Ibu dari Anak-anakmu

http://www.hipwee.com/hubungan/tolong-jangan-mengejarku-untuk-jadi-pacarmu-aku-lebih-ingin-jadi-ibu-dari-anak-anakmu/

Jika boleh jujur, kaki ini sudah lelah berjalan menjajal tanah yang berbeda. Jemariku juga mulai jengah digenggam tangan yang tak sama. Sudah tidak lagi kubutuhkan kencan romantis di malam Minggu, atau kejutan anniversary berupa bunga di depan pintu.

Sebab kini, masa depan jauh lebih penting dari semua simbol-simbol itu. 

Jika memang kau sayang padaku bolehkah kuminta satu hal saja padamu? Tolong jangan minta aku jadi pacarmu. Sebab wanita yang satu ini jauh lebih ingin jadi ibu dari anak-anakmu.

Drama tak penting dalam cinta sudah khatam kita alami sebelumnya. Bersamamu, bolehkah kujalani cinta yang lebih dewasa?

Kita sudah sama-sama cukup mapan sebagai manusia. Aku tak bicara soal rumah, mobil, deposito, dan segala turunannya. Sebab kini kutahu pencapaian hidup bukan cuma soal itu saja.
Kau dan aku adalah dua orang manusia yang sudah khatam dengan segala drama cinta. Tak bisa move on sekian lama, menyalahkan diri sendiri karena kebodohan jatuh cinta pada orang yang salah, sampai sempat menghentikan langkah karena hati yang terlalu berdarah.
Tapi kita berdua juga sama-sama pejuang yang berhasil mengalahkan hati sendiri. Kau bangkit meski kini hatimu tak utuh seperti dulu lagi. Aku memutuskan berjuang kembali, sebab konyol sekali jika hanya karena urusan hati aku menyesal sampai mati.

Kita jelas bukan dua orang dengan sejarah manis dalam urusan perasaan — tapi bukankah justru lewat kesakitan kita banyak belajar?

Sudah tak lagi ingin kutemukan ada pria yang menanti di depan pintu, bersabar menunggu dalam penampilan terbaikmu. Aku juga tak lagi butuh dimanjakan dengan makan di tempat fancy terbaru pun jalan-jalan ke mall  di malam Minggu.
Buatku, tak ada yang lebih indah dari bisa pulang ke rumah yang sama. Mengakhiri hari lelah berdua, saling mengusap bahu dan punggung yang pegal sebab tegak terlalu lama. Kita akan menggelar kencan mesra di atas satu bantal yang sama.

Di tengah dunia yang makin tak waras dan tanpa batasan, bersama akan kita bangun hidup dalam tudung kewajaran

Semua yang sudah dilewati dahulu membuka mataku dan matamu: bahwa ini bukan cuma perkara merelakan tubuh dan mendedikasikan waktu. Ada yang lebih besar dari dua hal sepele itu. Kita dipertemukan tak hanya untuk melebur mimpi dan cair tubuh jadi satu.Ada tanggung jawab demi membangun peradaban baru. Membentuknya lewat arahanmu, kemudian membesarkannya lewat tanganku.

Kuharap kamulah yang menggenggam tangan saat perut mulai membesar. Jadi orang pertama yang kubangunkan setiap makhluk kecil itu mulai menendang

Tidak ada orang lain yang lebih kuharapkan menggenggam tangan. Waktu perutku mulai membesar dan badanku tampak tak proporsional. Kuharap kelak kau cukup sabar meyakinkan, bahwa tubuhku tak tampak seperti balon besar berisi gas helium yang siap terbang.
Dalam malam-malam penuh tendangan, tak ada yang lebih ingin kubangunkan. Selain dirimu, pria yang membawaku ikut serta dalam upayanya membangun masa depan. Dia yang dengan bangga kukenalkan sebagai Ayah dari anak-anak yang kelak kulahirkan.

Kuminta kau berhenti bukan karena tak ingin didampingi. Tolong, biarkan aku masuk dalam hidupmu lewat peran yang lebih penting — nanti

Maka, kumohon sayang. Berhentilah sekarang. Tak perlu kau hujani aku dengan rayuan. Pun hadiah atau perhatian yang kau anggap bisa menenangkan. Pendampingan dalam status “hanya pacar” tak bisa dibanggakan. Kini, ada yang lebih penting untuk dilakukan.
Kuminta, bersabarlah. Bekerjalah lebih keras mulai sekarang. Bukan cuma soal mengisi tabungan, tapi juga mempersiapkan diri untuk jadi panutan. Sebab kelak, ada nyawa-nyawa baru yang akan menjadikanmu idola nomor wahid dalam kehidupan.
Lepaskan aku sekarang. Ijinkan aku menempuh jalan sendiri untuk berkembang. Kelak, ingin kumasuki kehidupanmu dengan peran yang membuat senyum mengembang.

Akan kuabdikan diriku, kuberikan seluruh kesetiaanku, kuserahkan akses ke semua lekuk tubuhku — agar kau bisa membuatku menjadi seseorang yang dipanggil, “Ibu.”
Oleh anak yang lahir dari benihmu.
Aku sungguh ingin kau dampingi. Hanya saja dalam ikatan yang lebih pasti, nanti....


Glitter Photos

Jumat, 27 Maret 2015

Untukmu Yang Dulu Memilih Melepasku, Lihatlah Aku Bahagia Sekarang Walau Sendiri

Sejak kita resmi tak bersama lagi, segala hal tentangmu sebisa mungkin kuhindari. Aku memutus silaturahmi demi cepat memulihkan hati. Namun kini, aku sudah siap menyapamu lagi. Aku ingin berkata bahwa aku baik-baik saja. Kuharap kabarmu pun sama baiknya..
Lama sekali rasanya sejak pertemuan kita yang terakhir. Sejak pertemuan di mana kau memberikan pilihan antara bertahan atau memilih jalan masing - masing, dan tidakkah kau tahu bahwasanya wanita yang sedang dalam keadaan emosional diberikan pilihan itu adalah sama saja kau memberikan pilihan bahwa perpisahan adalah jalan terbaik....

Sepanjang sisa pertemuan aku berusaha terlihat tenang, tak sudi memperlihatkan air mata. Baru saat kembali ke kamar sendirian aku menangis tanpa jeda. Esok paginya — dan pada beberapa pagi setelahnya — aku bangun dengan bengkak di kedua mata dan nyeri hebat di kepala.
Pernahkah kau mengira bahwa aku akan jatuh sedalam ini?

“Proses penyembuhan”-ku berlangsung pelan-pelan. Tak seperti dirimu, aku memang tak bisa langsung memasang wajah tak peduli dan menjalani hari seolah tak ada apa-apa yang terjadi. Di hari-hari pertama setelah kita tak lagi bersama, aku kerap tenggelam dalam luapan emosi yang tiba-tiba datang.
Teman-teman dan keluargalah yang membantuku bertahan. Ketika aku mengikrarkan diri tak layak dicintai, mereka “menghajarku” dengan cinta yang tulus dan sebenarnya. Mereka meyakinkanku, hidup adalah lebih dari apa yang pernah kumiliki denganmu. Bahwa masa depan menjanjikan lebih banyak kebaikan dari masa lalu. Aku pun mendidik hati untuk menerima. Meyakini bahwa Tuhan sedang menyiapkan yang terbaik dari atas sana.

Kita memang sudah berpisah lama. Rasa yang dulu pernah aku punya kini tak lagi terlihat jejaknya. Jika dulu namamu masih membuat tekanan darahku meninggi, kini ia terdengar sama seperti jutaan nama manusia yang lainnya. Jika tempat-tempat yang dulu bermakna bagi kita sempat kuhindari, kini aku bisa mendatanginya lagi dengan berani.
Banyak orang berkata, buat apa repot-repot berpacaran jika akhirnya berpisah juga? Bukankah usaha yang sudah dikerahkan selama ini jadi terbuang sia-sia?
Tapi tidak ada cinta yang sia-sia dijalani. Meski akhirnya harus diamputasi, rasa yang pernah kumiliki telah membuatku paham makna memberi.

Kepadamu yang dulu melepasku: lihatlah, aku baik-baik saja.

Glitter Photos